Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) bekerja sama mengadakan kuliah tamu dengan Kasetsart University, Thailand yang bersifat terbuka bagi civitas akademika UGM dan umum. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 4 Juni 2025 secara online melalui Zoom Meeting. Kegiatan tersebut menghadirkan oleh Dr. Chanita Boonmak dari Duckweed Holobiont Resource and Research Center Kasetsart University, Thailand (DHBC) sebagai narasumber.
Topik yang dibawakan dalam kuliah tamu ini adalah “Duckweed Microbiome: Unlocking Bacterial Potential for Environmental and Food Applications” yang memaparkan hasil kolaborasi penelitian yang didanai oleh Japan Science and Technology Agency (JIST) dan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang disebut Science Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATPREPS).
Thailand memiliki empat genus duckweed diantaranya Spirodela polyrhiza, Landolita punctata, Lemna aequionoctialis, dan Wolffia globosa. Pada presentasinya, Dr. Chanita Boonmak menjelaskan, “Duckweed memiliki kandungan yang berbeda tergantung dengan lingkungannya. Beberapa kandungan dari duckweed adalah serat, lignin, akumulasi protein kisaran 7- 45%, tepung kisaran 14-44% yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.” Di Thailand, kultivasi Wolffia dimanfaatkan menjadi pakan ternak sehingga meningkatkan kualitas kuning telur ayam. Selain itu, duckweed ini dapat bertindak sebagai carbon sequestration yang menyerap CO2 dengan cepat selama perkembangannya, sebagai substrat tepung kanji untuk biofuel, serta dapat dijadikan bahan baku bioplastik dan polyester.
“Karakteristik duckweed yang mengandung protein tinggi dipengaruhi oleh lingkungan. Selain itu duckweed juga merupakan tumbuhan air yang tumbuh dengan cepat karena hanya membutuhkan lahan kecil untuk tumbuh, tetapi memiliki banyak manfaat yang menguntungkan bagi air dan lahan,” tambah Chanita. Menurut penelitian yang telah dilakukan, duckweed mampu bertahan hidup di permukaan air seperti sawah, kolam teratai, kanal mengering, dan kolam alami. Tanaman ini bahkan dapat hidup di perairan tercemar, misalnya di area perkotaan atau kolam khusus air limbah.
Kuliah tamu ini juga membahas mengenai upaya pengembangan duckweed di aliran limbah melalui Plant Growth Promoting Bacteria (PGPB). Bebrapa filum bakteri yang umum ditemukan hidup bersama dengan duckweed adalah Gammaproteobacteria, Alphaproteobacterial, Betaproteobacteria, Firmicutes, dan Actinobacteria. Limbah pertanian (dalam hal ini peternakan) yang mengandung bahan organik atau bahan padat yang tinggi seperti kotoran ayam, pakan, bulu ayam, dan limbah cuci. Namun, unsur nitrogen yang terkandung di dalam limbah sulit untuk dihilangkan, sehingga memerlukan proses terlebih dahulu seperti melalui facultative pond yang ditumbuhi duckweed.
Desi Utami, S. P., M. Env.Sc., Ph.D., dosen di Mikrobiologi Pertanian, menyampaikan bahwa kuliah tamu yang rutin diselenggarakan dengan menghadirkan dosen dan peneliti berbagai negara ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keingintahuan mahasiswa, sekaligus memperluas kolaborasi internasional untuk Faperta UGM.
Melalui kolaborasi dengan Kasetsart University dan Hokkaido University, Faperta UGM berkeinginan memperdalam kajian tentang potensi duckweed dan berbagai manfaat bagi lingkungan dan pertanian berkelanjutan. Sejalan dengan komitmen ini, Faperta UGM juga berupaya mengambil peran dalam menyukseskan program Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 14: Ekosistem Laut, SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Kuat, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Octavia Riezqi Yusandra
Editor: Desi Utami
Dokumentasi: Media Faperta