Fakultas Pertanian UGM terus mendorong mahasiswa untuk memperluas wawasan akademik, budaya, dan jejaring internasional melalui berbagai program mobilitas mahasiswa. Salah satu kesempatan tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan mahasiswa dalam AIMS atau The Asian International Mobility for Students Program, yaitu program pertukaran mahasiswa di kawasan Asia yang berada di bawah naungan SEAMEO RIHED dan melibatkan berbagai universitas mitra, termasuk Universitas Gadjah Mada.
Nabilah Salma Jamaludin, mahasiswa Program Studi Mikrobiologi Pertanian angkatan 2022, berkesempatan mengikuti program AIMS di Ibaraki University, Jepang. Program ini berlangsung selama kurang lebih empat bulan, dimulai dari pertengahan September hingga akhir Januari. Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya mengikuti kegiatan perkuliahan, tetapi juga memperoleh pengalaman riset, adaptasi budaya, serta interaksi akademik di lingkungan internasional.

“Halo, saya Nabilah Salma Jamaludin, mahasiswa Mikrobiologi Pertanian angkatan 2022. Pada akhir tahun lalu, saya berkesempatan mengikuti salah satu program exchange student, yaitu AIMS. Program ini dibawahi oleh SEAMEO RIHED dan berkolaborasi dengan beberapa universitas di Indonesia, salah satunya UGM,” jelas Nabilah.
Nabilah menjelaskan bahwa untuk mahasiswa Fakultas Pertanian UGM, pilihan negara tujuan dalam program AIMS saat ini meliputi Jepang dan Korea. Untuk Jepang, universitas tujuan yang tersedia adalah Ibaraki University dan Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), sedangkan untuk Korea tersedia Gyeongsang National University (GNU). Menurutnya, program AIMS memberikan pengalaman penting dalam membangun keterbukaan pikiran dan memperluas perspektif mahasiswa melalui perbedaan sistem pendidikan, budaya, dan lingkungan akademik antarnegara.
Selama mengikuti program di Ibaraki University, Nabilah merasakan banyak pengalaman berharga, baik dalam kegiatan akademik maupun kegiatan di luar kelas. Ia menyampaikan bahwa pada batch-nya, terdapat berbagai kegiatan tambahan selain perkuliahan dan eksperimen laboratorium. Selain itu, program AIMS saat itu juga bertepatan dengan Sakura Program, sehingga terdapat beberapa kegiatan yang mempertemukan peserta AIMS dengan peserta Sakura Program.
“Kesan saya selama mengikuti program AIMS ini seru, apalagi seiring berjalannya waktu dan setelah mulai bisa beradaptasi. Saya semakin merasakan bahwa mengikuti program pertukaran memberikan banyak manfaat. Alhamdulillah, pada batch saya cukup banyak kegiatan yang diadakan selain kuliah dan eksperimen di laboratorium,” tutur Nabilah.
Salah satu hal yang paling berkesan bagi Nabilah adalah pengalaman bekerja di laboratorium dengan fasilitas dan peralatan yang canggih. Sebagai mahasiswa S1, ia merasa bahwa kesempatan untuk mencoba berbagai alat laboratorium tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga. Selain itu, ia juga merasakan dukungan dari sensei dan anggota laboratorium yang sangat suportif, detail dalam membimbing, serta terbuka dalam membantu mahasiswa memahami tahapan eksperimen.
“Untuk anak S1, bisa mencoba alat-alat laboratorium yang menurut saya canggih adalah kesempatan yang membuat saya merasa, “eh, beneran ini kita boleh coba?” Sensei saya sangat suportif dan sangat rinci dalam mengajarkan kami. Member lab juga tidak ragu menjawab secara detail dan membantu saat kami kesulitan memahami langkah-langkah eksperimen,” jelas Nabilah.
Menurut Nabilah, kultur akademik dan laboratorium di Jepang juga memberikan pembelajaran penting terkait kedisiplinan, ketelitian, kerapian, serta manajemen waktu. Ia menilai bahwa kegiatan eksperimen di laboratorium berjalan secara terstruktur dan terorganisasi. Komunikasi terkait jadwal menjadi hal yang sangat penting karena masyarakat Jepang sangat menghargai waktu dan keteraturan. Menurutnya, apabila terdapat perubahan jadwal, mahasiswa perlu menyampaikannya dengan jelas karena keterbukaan komunikasi merupakan bagian penting dari budaya kerja di Jepang.

Selain pengalaman akademik, program exchange juga mengajarkan Nabilah untuk menjadi lebih mandiri, baik dalam aspek akademik, finansial, maupun manajemen waktu. Ia juga merasa bahwa pengalaman tersebut membentuk keberanian untuk mengambil kesempatan, memperluas koneksi, serta lebih menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan mengikuti student exchange ini, mau tidak mau kita diajarkan untuk mandiri, mulai dari sisi akademik, finansial, hingga manajemen waktu. Program ini juga mengubah mindset saya bahwa setiap kesempatan sebaiknya tidak disia-siakan. Saya jadi lebih punya prinsip, nothing to lose, let God do the rest,” ungkap Nabilah.
Nabilah juga menambahkan bahwa pengalaman exchange tidak hanya membangun jejaring di lingkungan akademik, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengenal komunitas di luar kampus. Selama berada di Jepang, ia berkesempatan mengikuti komunitas muslimah meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari asrama. Dari pengalaman tersebut, ia dapat memperluas relasi, mengikuti kegiatan camp muslimah di Yokohama, serta berdiskusi dengan pihak AIMS RIHED dan delegasi dari Kemendikbudristek.
Lebih dari itu, tinggal jauh dari keluarga dan lingkungan terdekat membuat Nabilah belajar untuk lebih bersyukur. Berbagai bentuk bantuan dan kebaikan kecil dari orang-orang di sekitarnya menjadi pengalaman yang sangat berarti selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa exchange di Jepang. Meski demikian, Nabilah juga menghadapi beberapa tantangan selama mengikuti program tersebut. Salah satunya adalah penyesuaian terhadap sistem pendidikan dan perubahan jadwal yang terkadang terjadi secara mendadak. Ia juga menyampaikan bahwa kurangnya diversitas di kelas menjadi salah satu hal yang cukup disayangkan karena kelas yang ia ikuti hanya terdiri dari peserta AIMS, yang pada batch tersebut berasal dari Indonesia. Selain itu, keterbatasan kemampuan bahasa Jepang juga menjadi tantangan dalam berkomunikasi dengan mahasiswa maupun masyarakat setempat.
“Bahasa menjadi salah satu kendala saya saat student exchange di Jepang. Seharusnya saya belajar sedikit bahasa Jepang agar lebih mudah berkomunikasi dengan mahasiswa dan orang lokal, karena di tempat saya cukup minim orang yang memahami bahasa Inggris,” jelasnya.
Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program exchange atau mobilitas internasional, Nabilah berpesan agar mempersiapkan diri sejak awal, terutama dari sisi bahasa, pemahaman budaya, kesiapan mental, serta keberanian untuk mencari informasi dan bertanya kepada orang lain. Ia juga menekankan pentingnya memiliki niat yang kuat, tidak takut memulai interaksi, dan tetap berusaha meskipun dari langkah-langkah kecil.

“Sebisa mungkin, kalau ingin mengikuti program exchange dan sudah tahu negara tujuannya, pelajari sedikit kosakata dari negara tersebut. Selain itu, pahami juga budaya, norma, dan kebiasaan masyarakat lokal. Jangan takut untuk approach orang duluan, karena itu bisa menjadi pembelajaran yang sangat berharga,” pesan Nabilah.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan mengikuti program exchange tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik, tetapi juga pada keberanian untuk mencari informasi, membangun relasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta terus berdoa dan berusaha. Menurutnya, niat yang kuat dan kesiapan mental menjadi bekal penting agar mahasiswa dapat menjalani proses pertukaran dengan lebih baik.
Keikutsertaan mahasiswa Fakultas Pertanian UGM dalam program AIMS menjadi salah satu wujud penguatan kompetensi global, pengembangan wawasan akademik, serta peningkatan jejaring internasional bagi mahasiswa. Pengalaman ini sejalan dengan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung pendidikan berkualitas, peningkatan kapasitas generasi muda, serta kolaborasi internasional di bidang pendidikan dan pertanian.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Faeydza Dumyati Ali
Editor: Desi Utami