Yogyakarta – Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menyelenggarakan Municipal Waste Management: Workshop and Field Trip 2026 yang berlangsung pada 20–26 Juli 2026 di Yogyakarta. Mengusung tema Empowering Communities Through Sustainable Waste Solutions, program ini mempertemukan 25 mahasiswa internasional yang berasal dari 17 negara, termasuk China, Ethiopia, Filipina, Gambia, Indonesia, Kamboja, Kazakstan, Madagaskar, Malaysia, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Rwanda, Sudan, Tanzania, Vietnam, dan Yaman. Peserta datang untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat di Indonesia. Program ini merupakan tindak lanjut dari proses seleksi yang sangat kompetitif setelah menerima 408 pendaftar dari 42 negara.
Selama satu pekan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan diskusi bersama para pakar, kunjungan lapangan, serta interaksi langsung dengan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan. Melalui pendekatan experiential learning, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep pengelolaan sampah perkotaan, ekonomi sirkular, pengolahan limbah organik berbasis mikroorganisme, hingga praktik pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan lapangan menjadi salah satu daya tarik utama program ini. Peserta mengunjungi berbagai lokasi pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melihat secara langsung implementasi sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Selain memperoleh pengalaman teknis, para peserta juga berdiskusi mengenai tantangan pengelolaan sampah di negara masing-masing sehingga tercipta pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas budaya.

Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D., selaku Ketua Program EQUITY World Class University (WCU) UGM, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu keunggulan UGM yang telah diakui oleh UNESCO dan United Nations University (UNU). Melalui kolaborasi dengan mahasiswa KKN-PPM UGM di Kelurahan Baciro dan Terban, mahasiswa internasional dapat merasakan langsung pengalaman pengabdian kepada masyarakat yang menjadi ciri khas UGM. Dalam kegiatan tersebut, peserta bersama mahasiswa KKN melakukan edukasi dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, pemilahan sampah dari sumbernya, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Kolaborasi ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara mahasiswa internasional, mahasiswa UGM, dan masyarakat lokal, sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya bagi seluruh peserta.
Susanti Mugi Lestari, S.P., M.Si., Ph.D., selaku Koordinator Seksi Acara, menyampaikan bahwa terselenggaranya kegiatan ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, serta dikelola melalui Program EQUITY World Class University (WCU) Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Gadjah Mada (DPkM UGM). Dukungan tersebut memungkinkan terselenggaranya program akademik bertaraf internasional yang mendorong kolaborasi global, pertukaran pengetahuan, serta peningkatan kapasitas mahasiswa dan dosen, sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai perguruan tinggi berkelas dunia yang berkontribusi dalam penyelesaian berbagai tantangan global.
Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., yang menjabat sebagai Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, menyampaikan bahwa “Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua Tim, seluruh anggota tim, dan para peserta dari berbagai negara atas kolaborasi dalam upaya melestarikan bumi. Semoga kebersamaan lintas generasi dan lintas negara ini menjadi awal gerakan global yang semakin besar di bawah koordinasi Prof. Irfan demi keberlanjutan lingkungan” ungkapnya.
Keberagaman latar belakang peserta menjadikan program ini sebagai ruang kolaborasi internasional yang dinamis. Mahasiswa dari berbagai kawasan dunia saling berbagi perspektif mengenai inovasi, kebijakan, maupun praktik terbaik dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Jejaring yang terbentuk selama kegiatan diharapkan dapat menjadi awal kolaborasi riset, pendidikan, maupun pengabdian masyarakat di masa mendatang.
Ketua komunitas bank sampah di Gondolayu, Jetis sedang menunjukkan sabun olahan dari minyak jelantah kepada peserta workshop
Melalui penyelenggaraan program ini, Departemen Mikrobiologi Pertanian UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi. Desi Utami, S.P., M.Env.Sc., Ph.D., Ketua Program Studi Mikrobiologi Pertanian sekaligus PIC kegiatan, menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama program ini adalah memberikan kesempatan bagi mahasiswa Mikrobiologi Pertanian UGM untuk memperoleh eksposur internasional tanpa harus meninggalkan kampus. Melalui interaksi dengan 25 mahasiswa dari 17 negara, mahasiswa dapat memperluas jejaring internasional, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, serta membuka peluang kolaborasi akademik dan profesional di masa mendatang.
Kegiatan ini diharapkan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Program ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta, tetapi juga menginspirasi lahirnya berbagai inovasi pengelolaan sampah yang dapat diimplementasikan di berbagai negara.
Dengan terselenggaranya Municipal Waste Management: Workshop and Field Trip 2026, Departemen Mikrobiologi Pertanian UGM semakin memperkuat posisinya sebagai pusat pembelajaran internasional di bidang mikrobiologi lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Semangat kolaborasi yang terbangun selama program diharapkan terus berkembang menjadi jejaring global yang berkontribusi nyata dalam menciptakan solusi lingkungan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.

Prof. Irfan D. Prijambada selaku Ketua Kegiatan menjelaskan kondisi TPA Piyungan, tantangan pengelolaan sampah yang dihadapi, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.