Fakultas Pertanian UGM terus mendukung mahasiswa dalam mengembangkan wawasan akademik, pengalaman lintas budaya, serta jejaring internasional melalui berbagai program mobilitas mahasiswa. Salah satu program tersebut adalah AIMS atau Asian International Mobility for Students, yaitu program pertukaran mahasiswa yang melibatkan berbagai negara dan universitas di kawasan Asia.
Sherly Aurora Cahyadewi, mahasiswa Fakultas Pertanian UGM, berkesempatan mengikuti program exchange AIMS selama satu semester di Gyeongsang National University (GNU), Korea Selatan. Melalui program ini, mahasiswa dapat mengikuti kegiatan akademik di universitas mitra sekaligus memperoleh pengalaman langsung dalam beradaptasi dengan lingkungan pendidikan, budaya, dan kehidupan sosial di luar negeri.

“Program exchange yang saya ikuti adalah AIMS atau Asian International Mobility for Students dari Fakultas Pertanian UGM. Ada banyak negara dan universitas yang tergabung dalam AIMS, tetapi untuk Fakultas Pertanian UGM, kerja sama program ini mencakup tiga universitas, yaitu Ibaraki University, TUAT, dan Gyeongsang National University. Kemarin, saya mendapatkan kesempatan untuk exchange di Gyeongsang National University, Korea Selatan,” jelas Sherly.
Selama mengikuti program exchange, Sherly memperoleh banyak pengalaman berharga, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Melalui mata kuliah yang diambil, ia dapat memperluas wawasan tentang pertanian dari berbagai negara serta memperoleh perspektif baru dari dosen-dosen internasional. Ia juga berkesempatan mengikuti pembelajaran bersama dosen dari Korea dan Amerika. “Kesan selama ikut exchange sangat seru. Saya mendapatkan banyak hal dari program ini, mulai dari wawasan tentang pertanian dari berbagai negara, wawasan baru dari mata kuliah yang saya ambil, hingga perspektif dari para dosen yang mengajar. Kemarin, saya sempat diajar oleh dosen dari Korea dan Amerika, jadi bisa menambah perspektif saya,” tutur Sherly.
Selain pengalaman akademik, salah satu hal yang paling berkesan bagi Sherly adalah kesempatan untuk membangun relasi dengan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Filipina, Vietnam, China, Kyrgyzstan, Nigeria, Malaysia, Myanmar, Korea, dan beberapa negara lainnya. Menurutnya, relasi tersebut menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri karena memberikan banyak pembelajaran tentang perbedaan budaya, toleransi, dan cara berinteraksi dalam lingkungan internasional.
“Relasi menjadi salah satu hal yang paling saya syukuri karena saya belajar banyak dari teman-teman tentang perbedaan budaya dan toleransi. Saya bisa mendapatkan teman dari berbagai negara, dan pengalaman itu sangat membuka cara pandang saya,” ungkapnya. Program study abroad juga memberikan banyak pelajaran yang sulit diperoleh jika hanya belajar di dalam negeri. Selain menambah pengetahuan akademik, pengalaman ini juga mengajarkan kemampuan beradaptasi, memahami budaya dan bahasa baru, serta bertahan hidup di lingkungan yang berbeda. Hal tersebut semakin terasa karena Sherly harus tinggal di negara dengan masyarakat Muslim sebagai minoritas.

Ia juga belajar berinteraksi dengan warga lokal di Kota Jinju dengan kemampuan bahasa Korea yang masih terbatas. Tantangan tersebut menjadi bagian penting dari proses adaptasi karena sebagian besar warga lokal di kota tempat tinggalnya tidak menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.
“Kelebihan study abroad tentu banyak sekali. Saya bisa mendapatkan banyak pelajaran yang tidak bisa didapatkan di Indonesia, belajar budaya dan bahasa baru, serta belajar bertahan hidup di luar negeri. Saya juga belajar untuk beradaptasi, terlebih karena saya harus hidup di negara dengan masyarakat Muslim sebagai minoritas,” jelasnya. Meskipun demikian, Sherly menilai bahwa study abroad tidak berarti tidak memiliki tantangan. Tantangan tersebut sudah dimulai sejak tahap persiapan sebelum keberangkatan, terutama dalam menyiapkan berbagai dokumen, termasuk persyaratan visa yang cukup banyak. Setelah tiba di Korea Selatan, tantangan lain yang harus dihadapi adalah pengelolaan keuangan, keterbatasan makanan yang sesuai bagi mahasiswa Muslim, tempat ibadah yang tidak selalu mudah ditemukan, serta hambatan bahasa.
“Kekurangan study abroad mungkin lebih tepat disebut sebagai tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari persiapan dokumen sebelum keberangkatan, mengurus visa, mengatur uang agar cukup sampai akhir program, hingga mencari makanan yang aman dan tempat ibadah. Selain itu, language barrier juga cukup terasa karena kemampuan bahasa Korea saya masih terbatas,” ujarnya. Hambatan bahasa menjadi salah satu tantangan besar selama menjalani kehidupan akademik dan sosial di Korea Selatan. Dalam beberapa kesempatan, dosen menjelaskan materi menggunakan bahasa Korea, sementara beberapa materi kuliah juga disampaikan dalam bahasa Korea. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran dan interaksi dengan mahasiswa maupun warga lokal menjadi lebih menantang.
“Kadang cukup sulit untuk belajar di kelas maupun di luar kelas karena dosen sering menjelaskan menggunakan bahasa Korea, dan materi kuliah pun kadang menggunakan bahasa Korea. Untuk berinteraksi dengan mahasiswa dan warga lokal juga tidak selalu mudah karena kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris, jadi terkadang harus menggunakan bahasa isyarat,” tambahnya. Selama menjalani exchange, Sherly juga mendapatkan motivasi besar setelah melihat bagaimana Korea Selatan mengembangkan negaranya di berbagai bidang, mulai dari riset pertanian, tata kota, pendidikan, teknologi, hingga inovasi sosial. Menurutnya, masyarakat Korea menunjukkan karakter yang adaptif, tegas, dan inovatif. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
“Hal yang mendorong saya untuk menjadi lebih baik adalah ketika melihat bagaimana Korea bisa memajukan negaranya. Mulai dari riset di bidang pertanian dan bidang lainnya, tata kota, pendidikan, hingga teknologi. Mereka sangat adaptif, tegas, dan inovatif. Dari situ, saya termotivasi untuk terus belajar dan belajar lebih banyak lagi,” jelasnya. Ia juga melihat bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang seperti negara-negara maju lainnya, terutama dengan semakin banyaknya anak muda yang menyadari pentingnya pendidikan. Menurutnya, pengalaman belajar di luar negeri dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk membawa perspektif baru serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Bagi mahasiswa yang tertarik mengikuti program exchange, Sherly berpesan agar tidak ragu untuk mendaftar apabila memiliki kesempatan. Persiapan seperti esai, tes kemampuan bahasa Inggris, dokumen pendukung, serta persyaratan lain perlu disiapkan dengan baik dan tidak dilakukan mendekati tenggat waktu. Selain itu, mahasiswa juga disarankan untuk mempelajari bahasa dan budaya negara tujuan, terutama apabila negara tersebut bukan negara berbahasa Inggris. “Tips dari saya, jangan ragu untuk mendaftar karena kalau sudah rezeki, pasti ada jalannya. Siapkan esai, English proficiency test, dan syarat lain sebaik-baiknya, serta jangan sampai mepet deadline. Pelajari juga bahasa dan budaya negara tujuan, bahkan hal-hal kecil seperti cara naik MRT atau city bus, karena kadang warga lokal tidak bisa berbahasa Inggris,” pesannya.

Ia juga menyarankan agar mahasiswa menetapkan tujuan sejak awal sebelum berangkat. Dengan memiliki target yang jelas, mahasiswa dapat memanfaatkan waktu selama exchange secara lebih maksimal, baik untuk kegiatan akademik, eksplorasi budaya, memperluas relasi, maupun mengenal negara tujuan secara lebih mendalam. “Set goals tentang apa saja yang ingin dicapai selama berada di negara tujuan agar waktu di sana bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalau sudah diterima, explore sebanyak-banyaknya negara tujuan kalian, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga budaya, lingkungan, dan relasinya,” tambahnya.
Keikutsertaan mahasiswa Fakultas Pertanian UGM dalam program AIMS di Gyeongsang National University menjadi salah satu wujud penguatan kapasitas global mahasiswa, perluasan wawasan akademik, serta pengembangan jejaring internasional. Pengalaman ini sejalan dengan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung pendidikan berkualitas, pertukaran pengetahuan lintas negara, serta peningkatan daya saing mahasiswa di tingkat global.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Faeydza Dumyati Ali
Editor: Desi Utami