
Fakultas Pertanian UGM terus mendukung mahasiswa untuk memperoleh pengalaman pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat. Salah satu bentuk kegiatan tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan mahasiswa dalam SUIJI-SLP, yaitu program pertukaran berbasis Service Learning yang menggabungkan pembelajaran akademik, pengamatan lapangan, pemecahan masalah, serta pertukaran budaya.
Muhammad Syahru Ramadhan, mahasiswa Fakultas Pertanian UGM, berkesempatan mengikuti program SUIJI-SLP yang melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas, baik dari Indonesia maupun Jepang. Program ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa UGM, tetapi juga mahasiswa dari IPB, Universitas Hasanuddin, serta mahasiswa Jepang dari Kagawa University. Selama mengikuti program exchange, Syahru memperoleh berbagai pengalaman berharga, mulai dari proses pembelajaran, observasi lapangan, hingga pemecahan masalah bersama masyarakat. Menurutnya, seluruh agenda kegiatan terasa penuh dan bermanfaat karena SUIJI-SLP berfokus pada pendekatan Service Learning.
“Selama exchange, banyak pengalaman yang saya dapatkan, mulai dari pembelajaran hingga pemecahan masalah. Menurut saya, seluruh agenda yang dilakukan terasa penuh dan bermanfaat karena SUIJI-SLP berfokus pada Service Learning,” ujar Syahru.

Syahru menjelaskan bahwa agenda kegiatan dalam program ini dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu observasi, brainstorming, dan pemecahan masalah atau pencarian solusi. Pada tahap observasi, peserta mempelajari kondisi daerah setempat untuk memahami permasalahan yang ada, memetakan kebutuhan masyarakat, serta merancang solusi yang sesuai. Selain itu, peserta juga tetap mengikuti kegiatan pembelajaran di kampus. “Agenda kegiatan pertukaran ini dibagi menjadi tahap observasi, brainstorming, dan terakhir yaitu pemecahan masalah atau pencarian solusi. Pada proses observasi, kami belajar mengenai kondisi daerah tersebut untuk memetakan solusi, sekaligus belajar di kampus,” jelasnya.
Selama masa observasi, peserta juga diajak untuk mengenal masyarakat lebih dekat melalui berbagai kegiatan. Syahru bersama peserta lainnya berkesempatan berkeliling di lingkungan setempat, bermain dengan anak-anak, mengikuti company visit, serta terlibat dalam festival dan berbagai kegiatan bersama masyarakat setempat. Salah satu pengalaman yang paling unik dan membekas bagi Syahru adalah saat mengikuti Tanaka Summer Festival, yaitu acara yang diselenggarakan oleh masyarakat lokal. Dalam festival tersebut, ia bersama teman-temannya berkesempatan memperkenalkan budaya Indonesia melalui pertunjukan seni dan makanan khas Indonesia.
“Pengalaman unik dan paling membekas bagi saya adalah ketika mengikuti Tanaka Summer Festival, yaitu acara yang diselenggarakan oleh masyarakat lokal. Pada acara ini, saya merasa sangat senang karena bisa menampilkan tarian Gemu Fa Mi Re dan melihat antusiasme masyarakat lokal yang ikut menari bersama kami,” tutur Syahru.
Selain menampilkan tarian Gemu Fa Mi Re, Syahru dan teman-temannya juga membawakan lagu Yamko Rambe Yamko serta lagu Jepang berjudul Kokoronotomo. Tidak hanya melalui pertunjukan seni, peserta juga memasak makanan Indonesia yang kemudian dihidangkan dan dinikmati bersama masyarakat setempat. Menurut Syahru, antusiasme masyarakat lokal menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa sangat diterima selama mengikuti program ini. Interaksi langsung dengan masyarakat juga memberikan pengalaman cultural exchange yang berkesan dan memperluas cara pandangnya terhadap kehidupan sosial dan budaya di negara lain.
“Antusiasme masyarakat lokal dan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung membuat saya merasa sangat diterima dan beruntung dapat mengikuti program SUIJI-SLP ini,” ungkapnya. Melalui program ini, Syahru juga dapat memperluas jejaring relasi dengan mahasiswa dari berbagai universitas dan latar belakang. Ia menilai bahwa keberagaman peserta memberikan ruang bagi saling bertukar perspektif, baik dalam hal akademik, sosial, maupun budaya.

Selain itu, program SUIJI-SLP memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji secara langsung materi yang telah diperoleh selama perkuliahan, baik di UGM maupun di Kagawa University. Pembelajaran yang sebelumnya diperoleh di kampus dapat diterapkan dalam konteks nyata melalui observasi, diskusi, dan penyusunan solusi yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. “Melalui program ini, materi yang didapatkan di kampus selama di UGM dan Kagawa dapat langsung diuji coba di lapangan. Nilai positif lain yang saya peroleh adalah meningkatnya kesadaran terhadap lingkungan dan sosial, kemampuan leadership, serta pengalaman cultural exchange yang sangat berkesan,” jelas Syahru.
Keikutsertaan mahasiswa Fakultas Pertanian UGM dalam program SUIJI-SLP menjadi salah satu wujud penguatan pembelajaran berbasis pengalaman, kolaborasi internasional, dan pengabdian kepada masyarakat. Program ini juga sejalan dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghubungkan pendidikan, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Faeydza Dumyati Ali
Editor: Agung Dian K