
Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM secara konsisten berupaya mengintegrasikan konsep keilmuan di ruang kuliah dengan implementasi nyata di sektor industri dan pengelolaan lingkungan. Langkah nyata tersebut diwujudkan lewat agenda kunjungan yang diikuti oleh seluruh praktikan mata kuliah Mikrobiologi Akuatik pada Senin, 4 Mei 2026. Destinasi kunjungan kali ini tertuju pada Balai Pengelolaan Air Limbah dan Pengembangan Jasa Konstruksi (PALPJK) Sewon, sebuah pusat pengolahan limbah cair domestik terpadu yang berlokasi di Bantul, DI Yogyakarta.
Kunjungan ini difokuskan untuk mengeksplorasi sistem pengolahan limbah domestik terpusat skala regional yang dikelola oleh Pemerintah. Sebagai salah satu fasilitas pengolahan limbah terbesar, IPAL Sewon menjadi laboratorium alam yang ideal bagi mahasiswa untuk mempelajari proses pengelolaan air limbah sebelum dibuang ke lingkungan.
Dalam kunjungan tersebut, para praktikan berkesempatan mempelajari transformasi teknologi pengolahan air limbah yang diterapkan di Balai PALPJK Sewon. Instalasi ini telah mengoptimalkan sistem pengolahannya dari yang semula menggunakan kolam aerasi fakultatif (Facultative Aerated Lagoon) menjadi sistem lumpur aktif dengan teknologi modern Sequencing Batch Reactor (SBR).
Bagi mahasiswa Mikrobiologi, perubahan sistem ini memberikan sudut pandang riset yang sangat kaya. Teknologi SBR berbasis Aerobic Activated Sludge memanfaatkan konsorsium mikroorganisme di dalam lumpur aktif untuk mendegradasi polutan organik secara biologis. Proses aerasi dan sedimentasi yang kini terintegrasi dalam satu bak menunjukkan bagaimana kontrol populasi bakteri dan pemeliharaan kondisi lingkungan mikrobial dapat menghasilkan air efluen yang aman bagi ekosistem akuatik penerima.
Sepanjang kegiatan, rombongan praktikan diajak meninjau berbagai unit operasional yang dikembangkan oleh Balai PALPJK Sewon. Praktikan juga berkesempatan menelusuri rute mekanis penjernihan air yang dimulai dari tahap penyaringan makro (screens), pemisahan sedimentasi kasar (grit chamber), hingga pemanfaatan kolam indikator hayati (bioindicator pond) sebagai parameter akhir.
Melalui kunjungan, para praktikan Mikrobiologi Akuatik tidak sekadar memahami teori degradasi polutan di meja laboratorium, tetapi juga menyaksikan bagaimana kontrol ekosistem mikro bervolume besar mampu menjawab tantangan sanitasi wilayah urban Yogyakarta, Sleman, dan Bantul.
Pelaksanaan kunjungan sekaligus merefleksikan andil aktif dari Departemen Mikrobiologi Pertanian UGM dalam merealisasikan tujuan pembangunan berkelanjutan global, terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Nadine Nasywa Zuleyka
Editor: Desi Utami