Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan kegiatan Bean to Bar Workshop and Field Trip 2026 pada 22–26 Agustus 2026 yang diikuti 8 mahasiswa dari Ibaraki University, Jepang dan 5 mahasiswa Program Studi Mikrobiologi Pertanian UGM. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman pembelajaran secara langsung mengenai perjalanan produksi cokelat, mulai dari pengolahan bahan baku kakao hingga menjadi produk cokelat siap konsumsi.

Kegiatan ini berada di bawah supervisi Nur Akbar Arofatullah, S.P., M.Biotech., Ph.D. serta didukung oleh student committee yang terdiri atas mahasiswa Program Studi S1 Mikrobiologi Pertanian UGM.
“Kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar mengelola sebuah program workshop internasional secara mandiri, tentunya dengan bimbingan dari dosen. Mahasiswa terlibat secara langsung dalam seluruh proses penyelenggaraan kegiatan, mulai dari tahap perencanaan, persiapan, eksekusi atau pelaksanaan program, hingga pengelolaan keuangan. Selain itu, mahasiswa juga belajar berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan berinteraksi secara langsung dengan mahasiswa internasional” ujar Dr. Akbar selaku supervisor kegiatan.
Rangkaian kegiatan diawali di Fakultas Pertanian UGM dengan sesi pembukaan dan pengenalan program. Peserta kemudian mengunjungi Cokelat Monggo untuk mempelajari proses produksi cokelat, termasuk kegiatan chocolate praline making workshop dan chocolate tasting.

Pengalaman pembelajaran dilanjutkan melalui kegiatan Bean to Bar Workshop dan field trip di Wondis. Selama kegiatan, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenal proses pengolahan kakao secara lebih komprehensif melalui pendekatan agro-edutourism. Peserta mempelajari berbagai tahapan penting dalam rantai produksi cokelat, mulai dari pengenalan kakao, proses fermentasi dan pengeringan biji, pemanggangan (roasting), pemisahan kulit biji (winnowing), hingga proses penghalusan, pencetakan, dan pengemasan produk cokelat.
Kegiatan lapangan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga menyaksikan dan terlibat langsung dalam proses pengolahan kakao. Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) ini diharapkan dapat memperluas wawasan peserta mengenai keterkaitan antara pertanian, mikroorganisme, teknologi pangan, dan inovasi produk.
Selain aspek akademik, kegiatan Bean to Bar Workshop and Field Trip 2026 juga menjadi ruang untuk membangun pengalaman belajar lintas budaya dan memperkuat interaksi antara peserta, mahasiswa, serta mitra kegiatan. Rangkaian program ditutup dengan sesi presentasi dan faculty tour di Fakultas Pertanian UGM.
Melalui kegiatan ini, Departemen Mikrobiologi Pertanian UGM terus mendorong terciptanya pengalaman pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual. Bean to Bar Workshop and Field Trip 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana pembelajaran dapat dikembangkan melampaui ruang kelas, dengan menghubungkan ilmu pengetahuan, praktik lapangan, inovasi, serta pengalaman langsung dalam memahami sebuah sistem produksi pangan secara utuh.
Lebih dari sekadar kegiatan akademik dan kunjungan lapangan, Bean to Bar Workshop and Field Trip 2026 juga menjadi ajang pertukaran budaya dan kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada mahasiswa Jepang. Melalui berbagai aktivitas selama program, para peserta tidak hanya belajar mengenai kakao dan proses produksi cokelat, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung mengenal kehidupan, budaya, dan kearifan lokal Indonesia dengan tinggal di homestay rumah warga.

Salah satu bentuk pengenalan budaya Indonesia dilakukan melalui penggunaan pakaian seragam batik oleh para peserta. Menariknya, batik yang digunakan dalam kegiatan ini dibuat secara khusus sesuai dengan ukuran tubuh masing-masing peserta.
“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran tentang bean to bar dan proses produksi cokelat, tetapi juga menjadi pengalaman budaya bagi mahasiswa Jepang. Salah satunya melalui penggunaan seragam batik yang dijahit berdasarkan ukuran badan masing-masing peserta dan dikerjakan oleh penjahit lokal di Bantul,” ujar Akbar.
Menurut Akbar, keterlibatan penjahit lokal dalam penyediaan seragam tersebut juga menjadi bagian dari upaya untuk menghadirkan pengalaman yang lebih autentik bagi peserta internasional. Dengan mengenakan batik yang dibuat secara khusus oleh pelaku usaha lokal, mahasiswa Jepang diharapkan dapat merasakan secara langsung salah satu kekayaan budaya Indonesia sekaligus mengenal potensi masyarakat dan ekonomi lokal.

Ketua Program Studi Mikrobiologi Pertanian UGM, Desi Utami, S.P., M.Env.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada koordinator kegiatan dan seluruh mahasiswa yang telah bekerja keras dalam mempersiapkan dan melaksanakan Bean to Bar Workshop and Field Trip 2026.
“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Dr. Nur Akbar Arofatullah selaku koordinator kegiatan, serta seluruh mahasiswa yang telah terlibat dalam menyukseskan program ini. Kegiatan seperti ini membutuhkan persiapan dan koordinasi yang baik, dan saya melihat mahasiswa telah diberikan kesempatan untuk mengambil peran aktif dalam penyelenggaraannya. Sehingga menjadi sarana yang efektif untuk belajar dan berinteraksi langsung dengan dunia internasional,” ujar Desi.