Prof. Irfan Dwidya Prijambada, Dosen dari Departemen Mikrobiologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) berkesempatan mengikuti rangkaian kegiatan akademik dan industri pangan di Inggris yaitu 3PUKSEA (Plant Protein Plus Network UK-SE Asia) dengan mengangkat tema Plant Protein Plus Network UK–SE Asia (3PUKSEA): Multi-disciplinary collaboration for plant protein research and innovation network between the UK and South-East Asia pada April 2026. Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama internasional yang berfokus pada pemanfaatan protein beras sebagai sumber plant-based protein alternatif yang berkelanjutan.

Menurut Prof. Irfan, perhatian dunia terhadap protein nabati terus meningkat seiring kebutuhan akan sumber pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Salah satu sumber yang mulai dilirik adalah lapisan aleuron pada beras, yaitu bagian yang umumnya terlepas saat proses penggilingan dan berakhir sebagai dedak untuk pakan ternak. Padahal, bagian tersebut masih mengandung protein yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernilai tinggi. Selain itu, protein beras dinilai memiliki keunggulan karena tidak mengandung alergen seperti gluten yang terdapat pada gandum, sehingga berpotensi menjadi alternatif protein yang lebih aman bagi sebagian konsumen.
“Selama ini kita banyak mengenal protein nabati dari kacang-kacangan, padahal beras juga memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal,” jelas Prof. Irfan.
Kerja sama ini bermula dari kegiatan studi banding Departemen Mikrobiologi Pertanian UGM ke Hanoi, Vietnam, pada Agustus 2024. Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai peluang penelitian, termasuk pemanfaatan protein beras. Kemudian, pada awal 2025, mitra peneliti dari Hanoi kembali menghubungi Prof. Irfan, yang juga merupakan alumni Osaka University, untuk terlibat dalam proyek ekstraksi dan pemanfaatan protein beras. Komunikasi yang semakin intens kemudian membuka peluang kolaborasi yang lebih luas hingga akhirnya Prof. Irfan diundang ke Inggris untuk memaparkan latar belakang dan potensi protein beras yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Agenda pertama dilaksanakan di University of Greenwich. Di sana, Prof. Irfan berdiskusi dengan para peneliti mengenai pengembangan protein beras sebagai bahan baku pangan masa depan. Salah satu tokoh yang terlibat dalam inisiasi kolaborasi ini adalah Ben Bennett, yang telah lama berkiprah di Indonesia sebagai konsultan sektor pertanian. Selanjutnya, Prof. Irfan melanjutkan kunjungan ke kota Birmingham, termasuk ke Aston University. Di kampus tersebut, diskusi tidak hanya membahas pangan, tetapi juga berbagai inovasi pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.
Selain agenda akademik, Prof. Irfan juga menghadiri The UK Food & Drink Shows, sebuah pameran pangan dan minuman berskala nasional yang mempertemukan pelaku industri, UMKM, peneliti, dan inovator dari berbagai sektor di Inggris. Berbagai produk inovatif ditampilkan dalam pameran tersebut, mulai dari kombucha, yoghurt, minuman berbasis buah beri, hingga produk pengganti daging berbahan jamur. Tidak hanya berfungsi sebagai ajang promosi produk, kegiatan ini juga menjadi wadah bertukar ide dan membangun jejaring bisnis serta penelitian.
Salah satu pelajaran yang paling berkesan bagi Prof. Irfan adalah pentingnya konsistensi dalam industri. Menurut beliau, keberhasilan sebuah produk sering kali tidak hanya ditentukan oleh inovasinya, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas dan standar produksi secara berkelanjutan.
“Bukan ide yang luar biasa yang selalu menang, tetapi kemampuan untuk menjalankannya secara konsisten,” ungkapnya.
Meski memiliki potensi besar sebagai negara produsen beras, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan protein beras. Salah satunya adalah struktur pertanian yang didominasi oleh petani skala kecil sehingga pengumpulan bahan baku dalam jumlah besar menjadi lebih sulit dibandingkan negara seperti Vietnam. Beliau juga menyoroti pentingnya budaya standardisasi dalam penelitian. Menurutnya, kualitas riset Indonesia masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan negara-negara Eropa yang memiliki sistem standar penelitian yang kuat dan konsisten.
Kegiatan ini mendukung beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan sumber pangan alternatif yang berkelanjutan dan peningkatan nilai tambah hasil pertanian. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan riset dan inovasi pangan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini kurang dimanfaatkan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi penelitian antara Indonesia, Vietnam, dan Inggris.